KOMPAS.com – Generasi muda yang ingin menjadi wirausaha harus melawan budaya yang tumbuh di masyarakat, yakni malu untuk menjual produknya. Presiden Indonesia Islamic Forum (IIBF) Heppy Trenggono mengatakan, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang jaya bukan karena militer atau jumlah penduduknya, tetapi diperhitungkan dari tingkat perekonomiannya. Untuk itu mulai sekarang mentalitas sebagai wirausaha perlu dibangkitkan di kalangan generasi muda.

f479d avw Heppy Trenggono dan "Beli Indonesia"

Hepyy Trenggono yakin para generasi muda itu merupakan calon-calon wirausahawan yang hebat di masa yang akan datang yang menggelorakan perekonomian bangsa ini. Untuk sampai ke cita-cita itu, IIBF berupaya menciptakan pengusaha-pengusaha muda yang sangat handal.

Melalui program one month entrepreneur (OME), IIBF menciptakan puluhan calon pengusaha yang tangguh yang merupakan cikal bakal munculnya pengusaha muda yang kreatif. Menurut Heppy Trenggono, selama ini banyak pengusaha kita yang memulai dan menjalankan bisnis tanpa ilmu dan ketrampilan bisnis. “Bahkan banyak yang tidak mengerti language of business. Inilah penyebabnya mengapa angka kejatuhan bisnis sangat tinggi,” tegasnya.

IIBF juga member tambahan entrepreneurship nation yang mengandung makna. Entrepreneur tidak hanya dibutuhkanoleh pengusaha saja, tetapi juga para generasi muda, para pemimpin dan pemerintah. “China dan Amerika tidak akan diperhitungkan dunia jika para pemimpinnya tidak memiliki jiwa entrepreneurship,” ujarnya lagi.

Aktifitas ini dilakukan Heppy, karena gerakan ekonomi Indonesia sangat lamban bila dibandingkan dari negara-negara lain. “Kita sangat dimanjakan dengan produk-produk luar negeri, padahal bila kita mendapat kesempatan dan pemerintah sepakat untuk menggunakan produk dalam negeri ekonomi kita pasti akan bangkit,” kata Heppy.

Heppy menambahkan, dulu bangsa Indonesia dijajah bangsa asing, sekarang kehidupan bangsa Indonesia dikuasai oleh produk-produk bangsa asing. “Hampir semua kebutuhan hidup kita dibuat oleh orang asing. Misalnya, 92 persen produk teknologi yang kita pakai buatan asing. 80 persen pasar farmasi dikuasai oleh asing pula, 80 persen pasar tekstil juga dikuasai bangsa asing,” katanya lagi.

Padahal dengan 237 juta penduduk, Indonesia merupakan pasar besar yang sangat bisa dihandalkan. Di sisi lain dengan jumlah penduduk sebanyak ini juga sangat menakutkan, bila bangsa ini bangkit menjadi negara produsen. Untuk itu, Heppy berupaya membangkitkan semangat dan karakter bangsa Indonesia ini untuk bangga dan cinta akan produk dalam negeri.  Ia mulai berkeliling daerah atau kota-kota besar menggelorakan gerakan “Beli Indonesia“. Gagasan ini telah didukung oleh sejumlah pengusaha sukses di Indonesia yang tergabung dalam IIBF.

Menurut Heppy, Indonesia saat tercatat sebagai negara paling konsumtif nomor dua (AC Nielsen). Ini salah satu faktor pendukung Indonesia menjadi surga bagi produk asing yang ditandangi dengan membanjirkan produk-produk luar negeri dengan mengesampingkan produk lokal serta menggulingkan pabrik-pabrik yang membuatnya. Menurut catatan, tahun 2005 terhitung 429 pabrik kolaps, hanya dalam kurun waktu tiga tahun kemudian 200 pabrik di antaranya harus gulung tikar. Tahun 2010 Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar Rp 53 triliun.

Ia memberikan contoh, sebuah perusahaan asing menguasai pasar air dalam kemasan meraup penjualan sekitar Rp 10 triliun/tahun. Sebuah perusahaan minuman ringan menguasai 40 pasar minuman dalam negeri ini juga berhasil menyedot penjualan sekitar Rp 10 triliun/tahun. Perusahaan sampo, pasta gigi, sabun dan sejenisnya meraup sekitar Rp 20 triliun/tahun.

Masih menurut Heppy, ada sebuah perusahaan susu formula mengendalikan 80 persen petani di Indonesia. Menguasai 50 persen dari berbagai merek susu berhasil mengeruk penjualan Rp 200 triliun/tahun. Sedangkan produksi lokal sangat sulit untuk menembus pasar supermarket dengan potongan harga yang sangat tinggi. Ditegaskannya, “Beli Indonesia” merupakan sebuah konsep perang semesta untuk membangkitkan ekonomi dalam negeri.

Heppy optimistis, bila seluruh rakyat Indonesia sepakat untuk menggunakan produk dalam negeri masyarakat Indonesia akan makmur dalam waktu relatif singkat. “Kini Indonesia ketinggalan dengan negara tetangga, Singapura apalagi Jepang yang mengalami kehancuran setelah Nagasaki dan Hirosima dibom pada akhir perang dunia kedua lalu,” tegasnya.

Menurut dia, kini saatnya membangun dan membela negeri sendiri. Caranya dimulai dengan membeli produk buatan negeri sendiri. Inilah pertahanan terakhir menghadapi gempuran produk asing untuk menghindari bencana ekonomi di masa mendatang. Membeli produk sendiri berarti membela bangsa dan saudara sendiri. “Jika industri kita tumbuh, maka anak-anak negeri ini tidak perlu pergi ke luar negeri menjadi TKI, karena mereka mudah mencari pekerjaan di dalam negeri sendiri” tambahnya.

Heppy pun mengajak semua pihak untuk ikut berkampanye “Beli Indonesia”.  Gerakan Beli Indonesia membangkitkan 3 sikap perjuangan bangsa yaitu Membeli produk Indonesia, Membela Bangsa Indonesia dan Menghidupkan Semangat Persaudaraan.

Untuk mewujudkan tekad Beli Indonesia ini, Heppy dengan didukung para pengusaha, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya akan menggelar Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) di Solo, Jawa Tengah tanggal 22 Juni 2011 sampai 26 Juni 2011.



02824 ico share001 Heppy Trenggono dan "Beli Indonesia"
23f98 ico email001 Heppy Trenggono dan "Beli Indonesia"
75019 ico print001 Heppy Trenggono dan "Beli Indonesia"

Article source: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2011/05/29/16352275/Heppy.Trenggono.dan.Beli.Indonesia