SOLO, KOMPAS.com – Kota Solo bisa menjadi salah satu kota referensi, dalam pengelolaan transportasi yang humanis. Selain memiliki fasilitas yang lengkap, Solo juga menjadi salah satu kota tercepat dalam mewujudkan sistem transportasi tersebut.

62db2 avw Solo Kota Referensi Transportasi Humanis

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, usai peringatan satu tahun car free day, di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (29/5/2011). Menurut dia, Solo telah memiliki kemampuan mewujudkan transportasi humanis, yaitu transportasi yang memikirkan pergerakan warga. Hal itu salah satunya melalui program car free day.

Sebenarnya, lanjut Bambang, beberapa kota lain di Indonesia juga menerapkan program car free day. Meskipun demikian, Solo memiliki fasilitas paling lengkap dalam sistem transportasi humanis, yaitu dari segi ruang untuk kendaraan tidak bermotor, ruang untuk fasilitas pejalan kaki, dan dari segi revitalisasi angkutan umum.

Oleh karena itu, Kota Solo bisa menjadi salah satu kota percontohan dan referensi bagi kota-kota lain. Kota Solo, lanjutnya, juga bisa menjadi kota humanis dengan ciri khas tertentu, seperti misalnya kota sepeda, kota yang memiliki angkutan umum yang baik, atau kota humanis yang memiliki fasilitas pejalan kaki yang baik. ” Itu tergantung kota masing-masing,” katanya.

Kawasan car free day di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo berlangsung setiap hari Minggu, mulai pukul 05.00 hingga 09.00. Kepala Bidang L alu Lintas, Dinas Perhubungan Kota Solo, Sri Baskoro mengatakan, kawasan car free day dicanangkan sejak 30 Mei 2010, sepanjang 3,47 kilometer.

Selain memberikan ruang bagi pengguna sepeda dan pejalan kaki, area car free day juga memberikan ruang kepada masyarakat untuk berekspresi. Sedikitnya terdapat empat kegiatan yang dilibatkan dalam kawasan tersebut setiap Minggu, yaitu olahraga, seni budaya, edukasi, dan entertainment. “Ke depan, kami berharap kawasan Solo car free day tidak hanya sebagai area olahraga, tetapi juga ruang untuk beramah-tamah antar warga. Jadi kawasan car free day menjadi panggung masyarakat,” katanya.  

Jalur Sepeda

Selain kawasan car free day di Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo juga memiliki jalur lamban sepanjang 26 kilometer. Jalur tersebut digunakan untuk sepeda atau kendaraan tidak bermotor.

Saat ini, Pemkot Solo tengah mengusulkan bantuan APBN, untuk mengoptimalkan jalur lamban tersebut, sepanjang sekitar 18 kilomter. Jalur lamban yang akan dioptimalkan, meliputi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Adi Sucipto, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Kolonel Sutarto, dan Jalan Sutami.

Dalam jangka panjang, Pemkot Solo juga berkeinginan membuat kawasan jalur sepeda. Di dalam kawasan tersebut terdapat persewaan seped a, maupun tempat titipan sepeda. Meskipun demikian menurut Sri Baskoro, keinginan itu harus dipadukan terlebih dahulu dengan keinginan masyarakat.  

Perayaan

Sementara itu, perayaan satu tahun car free day di Kota Solo juga dimeriahkan dengan karnaval batik dan pemberian penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI), untu k kategori Pemakaian Batik dengan Jumlah Terbanyak, di Jalan Slamet Riyadi.

Penggagas kegiatan, Mayor Haristanto mengatakan, ide berbusana batik terbanyak, untuk menjadikan Solo sebagai ikon batik. Munculnya daerah-daerah lain sebagai penghasil batik, justru menjadi semangat Solo untuk lebih mempromosikan batik.



01608 ico share001 Solo Kota Referensi Transportasi Humanis
e5164 ico email001 Solo Kota Referensi Transportasi Humanis
8b39f ico print001 Solo Kota Referensi Transportasi Humanis

Article source: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2011/05/30/07035315/Solo.Kota.Referensi.Transportasi.Humanis.

share save 171 16 Solo Kota Referensi Transportasi Humanis

Related posts:

  1. Batik Bayat, Tak Sekadar Terima Order